Maros, RadarEkspres – Upaya penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal kembali menemukan momentumnya. Badaruddin, S.Pd., M.Pd., seorang guru sekaligus pemerhati budaya di Kabupaten Maros, memperkenalkan terobosan baru dalam dunia pendidikan melalui “Metode Pappasang”, sebuah inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal Sulawesi Selatan.
Metode ini tidak lahir secara instan. Badaruddin menjelaskan bahwa Metode Pappasang merupakan hasil penelitian dan pengembangan selama dua tahun. Metode tersebut telah diuji langsung dalam praktik pembelajaran di kelas, sekaligus melalui uji publik dalam seminar pendidikan dan forum Kelompok Kerja Guru (KKG).
Menurutnya, metode ini berangkat dari kegelisahan terhadap praktik pembelajaran yang dinilai kurang kontekstual dan semakin menjauh dari akar budaya peserta didik.
“Permasalahan utama pendidikan karakter saat ini adalah pembelajaran yang terputus dari realitas budaya lokal serta minimnya internalisasi nilai. Di sinilah pappasang hadir sebagai jembatan,” ujarnya.
Sejauh ini, uji publik telah dilakukan dalam dua kesempatan. Pertama, pada seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh PT Semen Bosowa pada 12 Februari 2026 di Kecamatan Bantimurung. Kedua, dalam kegiatan KKG Lau pada 23–25 April 2026 di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga praktik langsung. Materi yang disajikan mencakup pengenalan metode pappasang, teknik penyusunan pappasang kontemporer, serta strategi integrasi dalam rencana pembelajaran di berbagai jenjang dan mata pelajaran.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta tampak aktif dalam diskusi, berbagi pengalaman, hingga mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan percaya diri. Interaksi yang hidup ini menunjukkan bahwa metode yang diperkenalkan tidak hanya dipahami, tetapi juga direspons secara konstruktif oleh para guru.
Metode Pappasang dinilai memiliki sejumlah keunggulan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Selain mampu memperkuat karakter peserta didik, metode ini juga menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, meningkatkan keterlibatan aktif siswa, serta berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal. Fleksibilitasnya memungkinkan penerapan di berbagai mata pelajaran.
Dari sisi dampak, implementasi metode ini menunjukkan hasil yang signifikan. Aspek kognitif siswa mengalami peningkatan, sikap positif menjadi lebih konsisten, dan perilaku mulai terbentuk menjadi karakter nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Badaruddin berharap Metode Pappasang tidak hanya berkembang di Kabupaten Maros, tetapi juga dapat tersosialisasi secara luas di seluruh Sulawesi Selatan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada insan media yang telah berperan dalam menyebarluaskan inovasi ini.
“Peran media menjadi bagian penting dalam memperkenalkan metode ini kepada masyarakat. Ini adalah bentuk nyata keberpihakan terhadap pelestarian budaya lokal,” tutupnya.
Sumber: Kurniawan.
















