MAKASSAR, RadarEkspres – .Kelangkaan sejumlah energi primer secara bersamaan kian mencekik kehidupan masyarakat sehari-hari. Kombinasi sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM), langkanya pasokan LPG di pasaran, hingga frekuensi pemadaman listrik yang meningkat drastis, dinilai telah melumpuhkan berbagai aktivitas dasar warga mulai dari penerangan, mobilitas, hingga urusan dapur.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, antrean panjang kendaraan mengular di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejak pagi hari. Banyak warga terpaksa mendorong kendaraannya akibat kehabisan bensin saat mencari pasokan yang kian menipis. Kondisi ini memperparah mobilitas pekerja dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada transportasi harian.
Tak hanya di jalan raya, krisis ini merembet ke dapur warga. Pasokan LPG, terutama tabung 3 kilogram, menghilang dari pangkalan dan pengecer. Banyak keluarga terpaksa menghentikan aktivitas memasak atau beralih ke metode alternatif yang memakan biaya lebih besar.
”Mati lampu makin sering, LPG langka, mau cari bensin saja harus antre berjam-jam dan sering tidak kebagian. Ini kebutuhan paling dasar untuk hidup dan kerja, tapi semuanya serba susah,” ujar salah seorang warga yang mengeluhkan kondisi tersebut.
Di tengah situasi yang kian mendesak ini, masyarakat mempertanyakan peran dan langkah nyata Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Publik menilai fungsi pengawasan lembaga legislatif tersebut belum terasa optimal dalam mengawal kinerja kementerian terkait dan badan usaha penyedia energi untuk menuntaskan masalah distribusi ini secara cepat.
Masyarakat berharap pemerintah bersama DPR segera turun tangan melakukan intervensi tanggap darurat guna mengurai sumbatan pasokan energi. Pemulihan distribusi BBM, LPG, dan stabilitas pasokan listrik menjadi harga mati agar roda perekonomian serta aktivitas harian warga dapat kembali berjalan normal.
Laporan : Ilham
















