GOWA, RadarEkspres – 16 November 2025 — Kabupaten Gowa kembali meneguhkan jati dirinya sebagai daerah bersejarah dengan tradisi yang kuat melalui pelaksanaan Peringatan Hari Jadi Gowa ke-705. Dengan mengusung tema “Gowa Bersama, Maju dan Sejahtera”, perayaan tahun ini menggambarkan perjalanan panjang Gowa sejak 1320 hingga 2025, sekaligus menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk terus menjaga warisan leluhur.
Acara diawali di halaman Kantor DPRD Gowa yang dipadati oleh unsur pemerintahan, pemuka adat, tokoh masyarakat, komunitas budaya, hingga pelajar. Bupati Gowa, Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, SE., MM., membuka kegiatan dengan sebuah orasi yang menekankan bahwa usia 705 tahun bukan sekadar angka, tetapi bukti ketahanan sejarah Gowa sebagai kerajaan besar yang memiliki kontribusi mendalam bagi Nusantara. Ia menegaskan bahwa kemajuan Gowa hari ini tidak terlepas dari akar budaya, nilai adat, dan karakter masyarakatnya yang tetap terjaga.
Usai orasi, rombongan pemerintah bersama sejumlah tokoh adat dan masyarakat melanjutkan ziarah ke Makam Raja-Raja Gowa. Prosesi ini menjadi bagian sakral dari setiap peringatan hari jadi, sebagai wujud penghormatan kepada para pendiri dan pemimpin yang telah membangun pondasi politik, adat, dan pemerintahan Gowa. Momen ziarah berlangsung khidmat, menunjukkan bahwa hubungan masyarakat Gowa dengan leluhur tetap terjaga dalam bingkai budaya yang kuat.
Memasuki rangkaian siang dan sore hari, kegiatan berlanjut dengan program “Kecamatan Got Talent”, sebuah ruang apresiasi bagi talenta muda dari seluruh kecamatan di Kabupaten Gowa. Para peserta menampilkan berbagai kreasi seni mulai dari musik, tarian, seni peran, hingga atraksi budaya modern yang memadukan unsur tradisi. Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir, sekaligus menegaskan bahwa regenerasi pelaku seni dan budaya di Gowa terus bertumbuh.
Tidak hanya itu, hadir pula penampilan dari Local Heroes “Anto Sarro”, seorang figur lokal yang telah memberi kontribusi dalam pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat. Kehadirannya menambah warna dalam peringatan ini, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa identitas budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi.
Menjelang malam hari, kawasan Museum Balla Lompoa menjadi pusat perayaan. Upacara pembukaan resmi digelar dengan menonjolkan simbolisme budaya Gowa, lengkap dengan dekorasi bernuansa rumah adat, tari-tarian tradisional, dan busana khas yang dikenakan oleh tamu undangan. Pemerintah Kabupaten Gowa juga menyerahkan penghargaan serta hadiah lomba kepada sejumlah peserta dan pemenang kompetisi yang telah diselenggarakan sejak awal bulan perayaan. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi masyarakat dalam berbagai kegiatan seni, budaya, dan kreativitas lokal.
Dari berbagai penampilan, Tari Pepepe Ri Banea menjadi salah satu momen paling dinanti, menampilkan gerak simbolik yang menggambarkan keberanian masyarakat Gowa sejak masa lampau. Acara malam semakin semarak dengan penampilan musisi Ridwan Sau, yang memberikan sentuhan modern namun tetap berpadu dengan atmosfir budaya lokal.
Hari Kedua 17 November 2025: Parade Tubarani, Musik Tradisional, Edukasi Sejarah, dan Gaya Hiburan Kekinian, suasana perayaan semakin meriah dengan digelarnya Defile Pasukan Tubarani, yang melibatkan kontingen dari seluruh 18 kecamatan seKabupaten Gowa. Parade ini tidak hanya memperlihatkan kostum dan formasi khas Tubarani, tetapi juga menegaskan simbol keberanian, kesetiaan, dan persatuan masyarakat Gowa dalam satu barisan penuh wibawa.
Irama tradisional turut menghidupkan suasana melalui penampilan Orkes Turiolo dan Gandrang Bulo, dua musik tradisional yang sarat energi dan nuansa kegembiraan. Kehadiran musik ini menjadi pengingat akan kejayaan Gowa pada masa lampau sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Rangkaian acara kemudian memasuki sesi edukatif melalui Pembacaan Sejarah Singkat Gowa, yang memberikan wawasan penting tentang perjalanan panjang kerajaan Gowa, kontribusinya dalam sejarah Nusantara, serta nilai-nilai yang masih bertahan hingga hari ini. Edukasi sejarah ini menjadi momen penting bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Setelah itu, digelar Awarding Got Talent dan Kampung Bersih, sebagai bentuk apresiasi bagi bakat-bakat terbaik serta masyarakat yang berhasil menjaga lingkungan permukiman tetap bersih dan tertata. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada sektor infrastruktur, tetapi juga karakter masyarakatnya.
Agenda dilanjutkan dengan penampilan Tunrung Gandrang, salah satu ritual budaya yang selalu dinantikan dalam setiap perayaan adat di Gowa. Tradisi ini sarat makna spiritual dan simbol kekuatan, yang menegaskan kembali hubungan masyarakat dengan nilai-nilai leluhur.
Menghadirkan suasana hiburan yang lebih luas, musisi lokal Andy and Friends tampil memeriahkan panggung, sementara klimaks hiburan ditutup oleh Guest Star Ashari Sitaba yang berhasil memukau penonton melalui penampilan suara dan gayanya yang khas.
Seluruh rangkaian akhirnya ditutup secara resmi dalam sesi Closing, sebagai penanda berakhirnya perayaan Hari Jadi Gowa ke-705.
Simbol Persatuan, Warisan Leluhur, dan Arah Baru Gowa
Peringatan Hari Jadi Gowa ke-705 selama dua hari ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang besar untuk merefleksikan sejarah, memperkuat identitas budaya, serta menumbuhkan semangat kolaborasi masyarakat menuju masa depan yang lebih baik.
Dengan perpaduan sakralnya ziarah leluhur, meriahnya parade budaya, kuatnya edukasi sejarah, dan tampilnya talenta-talenta muda Gowa, perayaan tahun ini menegaskan bahwa Gowa terus menjaga warisan leluhurnya sembari melangkah menuju arah pembangunan yang lebih modern, inklusif, dan sejahtera.
Penulis : Kurniawan
















