Maros, RadarEkspres — Budayawan Maros, Sayyid Danial Assaqqaf Puang Rani, mengungkapkan filosofi budaya Bugis-Makassar yang digambarkan melalui simbol belah ketupat sebagai model pendidikan karakter yang relevan bagi generasi masa kini. Penjelasan tersebut disampaikan dalam wawancara bersama guru dan pemerhati budaya, Badaruddin Daeng Latte, Kamis 25 Juni 2026
Menurut Puang Rani, bagian puncak belah ketupat melambangkan Siri’, yaitu kehormatan, martabat, dan harga diri yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar. Nilai Siri’ ditopang oleh dua unsur penting, yakni Getteng (keteguhan memegang prinsip) dan Werrè’ atau Warani (keberanian mempertahankan kebenaran).
“Orang yang memiliki Siri’ harus teguh dalam pendirian dan berani membela yang benar. Tanpa kedua sifat itu, kehormatan hanya menjadi slogan,” ujar Puang Rani.
Sementara itu, bagian bawah belah ketupat melambangkan Pacce atau Pesse, yaitu rasa empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap penderitaan sesama. Nilai ini lahir dari perpaduan antara Risa-risa, kemampuan berpikir dan mempertimbangkan keadaan orang lain, serta Gau, tindakan nyata yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pacce bukan sekadar rasa iba. Ia harus diwujudkan dalam tindakan. Karena itu ada risa-risa sebagai pertimbangan, lalu gau sebagai pelaksanaan,” jelasnya.
Puang Rani menerangkan bahwa dua segitiga yang membentuk belah ketupat tersebut menggambarkan keseimbangan antara kehormatan dan kemanusiaan. Segitiga atas menunjukkan proses menjaga martabat diri melalui keteguhan dan keberanian, sedangkan segitiga bawah menggambarkan upaya membangun nilai kemanusiaan melalui kebijaksanaan berpikir dan tindakan nyata.
Menurutnya, Siri’ menjaga manusia agar tidak kehilangan harga diri, sementara Pacce menjaga manusia agar tidak kehilangan rasa kemanusiaan.
“Jika Siri’ menjadi tiang kehormatan, maka Pacce menjadi jiwa yang menghubungkan manusia dengan sesamanya. Keduanya harus berjalan bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, Badaruddin Daeng Latte menilai filosofi tersebut dapat menjadi model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang relevan di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. Nilai-nilai Getteng, Werrè’, Risa-risa, Gau, Siri’, dan Pacce dinilai tetap penting sebagai pedoman pembentukan kepribadian masyarakat Sulawesi Selatan.
Filosofi belah ketupat ini menegaskan bahwa manusia ideal dalam pandangan budaya Bugis-Makassar adalah sosok yang teguh memegang prinsip, berani membela kebenaran, bijaksana dalam pertimbangan, nyata dalam tindakan, menjaga kehormatan diri, serta memiliki kepedulian yang mendalam terhadap sesama.
Sumber : Kurniawan















